NIETSZCHE

Buku ini ditulis dalam bahasa puitis berwarna tembang (rapsodi), menjadikannya lebih menggairahkan untuk dinikmati sebagai karya sastra ketimbang tesis filsafat yang cenderung datar dan dingin. Mengutip Bertrand Russel, filsuf Inggris, “Thus Spake Zarathustra is pseudo-prophetical book.” Inilah karya sastra dunia yang paling banyak dibaca tapi paling jarang dipahami.
Friederich Wilhelm Nietszche, lahir di Rocken, Prusia, 15 Oktober 1884. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Nietszche menjelma menjadi filsuf par excellence yang mencerahkan dan sekaligus yang paling banyak disalahpahami. Lewat karya yang menjadi masterpiece-nya ini, Nietszche melantunkan sabda-sabda yang penuh percikan api dan padat dengan pawai aforisme yang menggugah permenungan, bayangan kegarangan, dan kegilaan, seakan hendak mendedahkan pesona: menyusup, menggetarkan, dan membuncah setiap hati yang mendengarnya.
Pernyataannya: God is Dead merupakan titik balik dari akumulasi keprihatinan hidupnya dalam jagad gila filsafat. Dan sabda inilah yang paling sering disalahpahami, seakan-akan Nietszche adalah penyeru atheisme murni. Sebenarnya, andai sedikit saja kita keluar dari tafsir tekstualis, maka kita menemukan bahwa Nietszche sedang membongkar basis intertekstualitas (sosio-historis) negatif yang bersembunyi dalam kerak agama.
“Tuhan telah mati” dimaksudkan Nietszche, selain penyadaran terhadap situasi sosial maupun terhadap perilaku eksistensialnya sendiri, juga ingin menyadarkan manusia tentang iman yang “palsu” dan “sejati”, mengembalikan manusia pada kodratnya sebagai “Adimanusia”. Suatu fitrah asasi yang selalu komit untuk menghadirkan (memperjuangkan) keadilan, kebebasan, kebenaran, kebersamaan, toleransi, dan sikap inklusif di tengah pluralitas.
Jadi, jelas sabda itu bukan ditujukan pada “Tuhan Yang Sejati”, tapi pada manusia sebagai warga masyarakat yang telah mempertuhankan diri sendiri, sains, dan rasionalitas. Nietszche sadar betul, apapun sikap manusia yang diambil terhadap “Tuhan Yang Sejati”, tidaklah dapat meniadakan dan menggoyahkan eksistensi-Nya, bahkan sebaliknya, makin mengokohkannya.
“Tuhan Yang Sejati” dalam kemutlakannya berada dalam kawasan yang mengatasi ruang dan waktu, tapi gejala atau fenomena kehadirannya meresapi seluruh jagad. Dan menurut Nieszche, “Tuhan Yang Sejati” itu kini telah terkubur dalam menara anggun agama-agama formal. Dalam ruang formalisme yang cenderung dogmatis, eksklusif, dan eksoteris itulah fitrah manusia disingkirkan. Tuhan dipuja dan disembah dalam wujud dan eksistensinya yang terpenjara dalam dimensi terbatas. Bagi Nietszche, tuhan jenis ini (“palsu”), memang tuhan yang semustinya mati karena memang bukan yang “sejati”.???
Bukan cuma “hantu” agama (formal) yang disodok Nietszche dalam buku ini, tapi juga “hantu” negara. “Negara adalah monster yang paling dingin,” katanya sinis (h. 102). Lagi-lagi Nietszche banyak disalahpahami di sini. Walaupun tak bisa ditolak bahwa Nietszche termasuk dalam kubu “anarkis”, yang “anti-negara”, seperti Robert Paul Wolf, Josian Warren, William Godwin, maupun Karl Marx.
Sama dengan penolakannya terhadap “hantu” agama (formal), negara yang ditolak Nietszche adalah negara yang telah menjelmakan dirinya melebihi fungsinya sebagai fasilitator masyarakat sipil; negara yang telah menjelma menjadi berhala baru; mesin teror intimidasi supaya manusia menjadi “kompromis”; dan negara yang hanya memobilisasi partisipasi rakyat dalam skema “tunduk dalam kepatuhan”, tapi tak menyediakan secuil pun ruang keadilan distribusi bagi partisipasi warga.
Sesungguhnya penolakan Nietszche atas hegemoni “hantu” negara dimaksudkan untuk memberi keleluasaan kepada masyarakat warga untuk menciptakan ruang privat yang memungkinkan mereka mampu menata dirinya sendiri tanpa tergantung pemerintah (negara). Dan ini tak mudah. Sebab, acap gerakan “subpolitik” atau “gerakan bawah permukaan” yang “emoh” negara itu tak pernah bisa dipandang sebagai sebuah eksperimen “gerakan sosial” yang betul-betul par excellence (paripurna, red) , yang bisa membebaskan jiwa-jiwa besar untuk hidup secara terbuka, yang mengepakkan sayap-sayap patah manusia untuk memerincingkan kembali melodi yang harmoni, yang plural, yang nantinya akan menjadi pelangi dan jembatan menuju “Adimanusia” (übermensch).
Jika diselidiki secara cermat, penolakan Nietszche atas dua “hantu” itu (agama dan negara), sungguh tepat. Sebab, kala itu, kedua institusi itu telah menjadi semacam berhala baru yang tak lagi mengindahkan kehadiran “Tuhan Yang Sejati” dan “emoh” atas kekuatan masyarakat warga sebagai pencipta pribadi-pribadi “Adimanusia” (sosok insan kamil).
Menurut ST. Sunardi (1996), Nietszche sengaja menggubah karya ini untuk menyingkap kembali tebing-tebing yang dalam, curam, dan menakutkan, agar hidup kembali beresonansi. Itu artinya, memperkenalkan pemikiran Nietszche berarti kita menyediakan aksesibilitas tanpa batas kepada mereka yang tertarik akan soal-soal ide-untuk ikut serta dalam suatu penjelajahan yang menggoncang-goncang, menjebol batas, menemui malam, memasuki sebuah gelora yang merangsang. Di sana, meminjam Goenawan Muhammad, kita senantiasa dikejutkan oleh tendensinya, yakni bahaya.
Bahaya? Tepatnya mungkin gila, sebab buku ini memang amat bisa disebut semacam ekstasi Nietszche. Yang didapat dari sana ialah pembelotan, kegilaan, khaos, keasyikan, dan aforisme tentang kaburnya tirai nilai “baik dan “buruk”. Tapi kegilaan Nietszche, kata Karl Jaspers, Heidegger, Foucault, dan Derrida, memiliki arti bagi keberlangsungan peradaban.
Karena jasa-jasanya itulah, Muhammad Iqbal, salah satu filsuf besar Islam abad 20, menobatkan Nietszche sebagai filsuf yang hatinya “beriman” tapi otaknya “kafir”. Nah, barangkali tugas kita (generasi muda Indonesia) sebagai calon cendekiawan dan pemimpin masa depan untuk mengimankan otaknya, kakinya, dan sekaligus memancarkan cahaya ini ke tengah-tengah masyarakat.

Categories: Filsafat | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Ihsanulirfan's Blog

physics is my life :)

Kebab Ajieb And Spirit Tea

Just another WordPress.com site

isnaherawaty

Just another WordPress.com site

RINO LIGHT_Sugeng Santoso

Karya, Bisnis, dan Usahaku Untuk Berbagi Bersama Kalian

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

Adi Maja Diary

welcome in my life

Catatan si Kecil

A great WordPress.com site

Wachied Van Eerlijk

A topnotch WordPress.com site

My Site The Munawar

Tersenyumlah Karena Ku Tau Senyummu Itu Indah

Newbie Tora

Takkan ada perubahan tanpa ada perbuatan

fabelster

Education & Music

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: