Makalah definisi pendidikan

  1. A.    DEFINISI FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan adalah suatu upaya yang sangat komplek, namun sangat penting. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita para pendidik untuk memahami dan mempelajari filsafat pendidikan. Menurut Al-Syaibany, filsafat pendidik­an adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Sementara Jhon Dewey menyampaikan bahwa filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasa­an (emosional), menuju tabiat manusia. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan.[1] Dengan demikian secara sederhana filsafat pendidikan juga berarti suatu pemikiran secara mendalam dan sistematis tentang masalah-masalah pendidikan.[2]

Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam lapangan pendidikan. Seperti halnya filsafat, filsafat pendidikan dapat dikatakan spekulatif, preskriptif, dan analitik.[3] Filsafat pendidikan dapat dikatakan spekulatif karena berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat dunia, yang sangat bermanfaat dalam menafsirkan data-data sebagai hasil penelitian sains yang berbeda. Hal ini menunjukan bahwa filsafat dalam dunia pendidikan merupakan alat, yakni sebagai pisau analisis yang mampu membedah berbagai persoalan-persoalan manusia yang mungkin belum terungkap sekalipun,atau sebatas untuk melakukan kajian lanjutan yang mendalam.[4]

Filsafat pendidikan dikatakan prespektif apabila filsafat pendidikan menentukan tujuan-tujuan yang harus diikuti dan dicapainya, serta menentukan cara-cara yang tepat dan benar untuk digunakan dalam mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UUSPN No.20 Tahun 2003 merupakan pendidikan preskriptif, sebab menentukan tujuan atau target pendidikan yang hendak dicapai. Filsafat pendidikan preskriptif ini sejalan dengan pendapat Ali Khalil Abu ‘Ainaini yang mendefinisakan filsafat pendidikan sebagai kegiatan-kegiatan pemikiran yang sistematis, diambil dari sistem filsafat sebagai cara untuk mengatur dan menrangkan nilai-nilai tujuan pendidikan yang akan dicapai (direalisasikan).

Filsafat pendidikan dikatakan analitik apabila filsafat pendidikan menelaskan pertanyaan-pertanyaan spekulatif dan preskriptif. Dengan kata lain, filsafat pendidikan analitik mencoba menguji secara rasional tentang keabsahan dan kekonsistenan suatu ide atau gagasan ihwal  pendidikan. Contonya menguji dari sudut pandang filsafat tentang konsep pendidikan seumur hidup, pendidikan luar sekolah, dan sebagainya. Dengan demikian, filsafat pendidikan mengarahkan manusia menjalankan tugas-tugasnya dalam merealisasikan pendidikan.

  1. 1.   Pendidikan dan Filsafat Pendidikan

Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan pembuatan dari generasi tua untuk megalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi  muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Pendidikan itu adalah suatu disiplin dari berbagai macam bagian komponen. Bagian-bagian ini menjadi demikian bermacam ragam dan bersepesialisasi, akan tetapi betapapun juga, tidak selau mengambil tempat yang sama besarnya didalam segala arah dan segi pada waktu yang sama.

Dalam beberapa hal, filsafat pendidikan itu dapat disingkat dalam bentuk formula. Dan formula ini kemudian dijadikan semacaam semboyan atau selogan. Tetapi semboyan-semboyan itu sering pula disalah tafsirkan. Salah satu tugas kita mempelajari filsafat pendidikan adalah antara lain untuk menyelamatkan formula-formula dan pikiran-pikiran yang mengandung unsur-unsur pendidikan itu yang terungkap dan tercetus sebagai selogan dan semboyan. [5]

 

  1. 2.   Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan

Menurut Jalaludin & Idi (2007: 24) secara mikro yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi:

1. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (the nature of education);

2. Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan (the nature of man);

3. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan;

4. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan;

5. Merumuskan hubungan antara filsafat Negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidik­an);

6. Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidik­an yang merupakan tujuan pendidikan.

Bisa ditarik kesimpulan dari uraian diatas bahwa ruang lingkup filsafar pendidikan adalah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang baik dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan. Dalam makna lain filsafat pendidikan adalah falsifikasi pendidikan, baik dalam makna teoritis konseptual maupun makna praktis pragmatis yang menggejala.

  1. B.     FILSAFAT PENDIDIKAN DITINJAU DARI ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI
  2. 1.      Ontologi

Muhadjir dalam Syafiie (2004:9) menyampaikan bahwa objek telaah ontologi adalah yang ada tidak terikat pada satu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan vang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Jadi yang menjadi landasan dalam tataran ontologi ini adalah apa objek yang ditelaah, bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut, bagaimana pula hubungan objek tersebut dengan daya pikir dan penangkapan manusia. Maka filsafat pendidikan menyelidiki hakikat pendidikan yang bersangkut paut dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaannya.

Ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada, menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebat- akibat.   Yaitu, ada manusia, ada alam, dan ada cusa prima  dalam suatu hubungan menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan.[6] Atau suatu pemikiran tentang asal usul kejadian alam semesata ini, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Ontology merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula pikiran Barat sudah menunjukan munculnya perenungan dibidang ontology. Yang tertua di segenap filusuf barat yang kita kenal adalah orang yunani yang bijak dan arif yang bernama thales.[7] Pemikiran ontologis akhirnya akan menentukan sesuatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu adalah satu Zat  (monoisme) ataukah kekuatan pencipta Dua Zat ( Dualisme) atau banyak Zat (Pruralisme). Dan apakah roh, bilamana kekuatan itu besifat kebendaan, paham ini di sebut materialism dan bila bersifat roh, paham ini disebut spiritualisme (serba roh).[8]

  1. 2.      Epistemologi

Epistemologi adalah bidang filsafat nilai yang secara khusus mempersoalkan pengetahuan tentang nilai ‘kebenaran’ dan otomatis juga mempersoalkan tentang bagaimana  ‘cara’ mendapatkannya. Jika diterapkan pada pendidikan berarti yang menjadi persoalan pokoknya adalah pengetahuan yang benar yentang pendidikan atau kebenaran pendidikan, dan sekaligus bagaimana ‘cara’ penyelenggaraannya secara benar.

Pemahaman aspek epistemologi pendidikan berfungsi sebgai landasan dasar pengembangan potensi intelektual sehingga pada waktunya dapat membuah kematngan inteelegensia. Kematangan intelegensia ini berposisi sentral dan karenanya juga bernilai guna didalam dan bagi kelangsungan hidup sehari-hari. Epistemologi ilmu pengetahuan mempersoalkan tentang objek, metode, dan system untuk memperoleh nilai kebenaran. Oleh sebab itu pembahasan epistemologi pendidikan meliputi objek pendidikan, metode dan system penyelenggaraan pendidikan, serta pengetahuan tentang kenaran pendidikan itu sendiri.  [9]

  1. AKSIOLOGI

Istilah axiology berasal dari kata axios dan logos, axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, logos artinya akal, teori. Axiology artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria, dan status metafisik dari nilai. Dalam pemikiran filsafat Yunani, studi mengenai nilai ini mengedepan dalam pemikiran plato mengenei ide tentang kebaikan. Atau yang lebih dikenal dengan summum bomum (Kebaikan tertiggi).[10]

Aksiologiadalah  studi tentang nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang dinamakan oleh setiap insa. Nilai yang dimaksud adalah:

a.    Nilai jasmani : nilai yang terdiri atas nilai hidup, nilai nikmat dan nilai guna.

b.   Nilai rohani : nilai yang terdiri atas nilai intelek, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religi.

Nilai-nilai diatas tersusun dalam suatu system yang berurutan, yaitu dari nilai hidup – nilai nikmat – nilai guna, selanjutnya nilai intelek – nilai estetika – nilai etika – nilai religi. Nilai hidup adalah nilai dasar, yaitu sesuatu yang dikejar manusia bagi kelangsungan hidupnya. Sedangkan nilai religi adalah nilai utama, yaitu sesuatu yang didambakan oleh manusia untuk kemuliaan dirinya.[11]

  1. a.   Filsafat nilai

Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang hakekat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan  dengan masalah-maasalah nilai yang khusus, seperti ekonoomi, estetika, etika, filsafat agama dan epistemologi. Epistemologi bersangkutan dengan masalah kebenaran, etika bersangkutan dengan masalah kebaikan (dalam arti kesusilaan), dan astetika bersangkutan dengan masalah keindahan.[12]

  1. b.    Pendekatan-pendekatan dalam aksiologi

Pertanyaan mengenai hakekat nilai dapat dijawab dengan macam cara: orang dapat mengatakan bahwa:

1.   Nilai sepenuhnya berhakekat subjektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku yang keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman mereka. Yang demikian ini dapat dinamakan subjektivitas

2.   Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan di tinjaau dari segi ontology, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. Pendirian ini dinamakan objektivisme logis.

 

 

KESIMPULAN

  1. Ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada, menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat.   Yaitu, ada manusia, ada alam, dan ada cusa prima  dalam suatu hubungan menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan
  2. Epistemolgi yaitu berasal dari bahasa yunani “episteme” dan “logos”. “Episteme” artinya pengetahuan (knowledge), “logos” artinya teori. Dengan demikian epistemologi secara epistemologis berarti teori pengetahuan.
  3. Aksiologi adalahberasal dari kata axios dan logos, axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, logos artinya akal, teori. Axiology artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria, dan status metafisik dari nilai. Dalam pemikiran filsafat Yunani, studi mengenai nilai ini mengedepankan dalam pemikiran plato mengenai ide tentang kebaikan.

 

Filsafat pendidikan mempunyai 2 (dua) pendekatan, yaitu:

  1. Menggunakan pendekatan tradisional.
  2. Menggunakan pendekatan yang bersifat kritis.

Pada pendekatan pertama digunakan untuk memecahkan problem hidup dan kehidupan manusia sepanjang perkembangannya, sedangkan pada pendekatan yang kedua, digunakan untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.

Dari kata kunci ontologi, epistemologi, aksiologi tersebut akan menimbulkan banyak pertanyaan yang akan berdatangan tanpa akan berhenti selagi manusia hidup dengan akalnya. Dengan adanya Hubungan filsafat dengan pendidikan dapat di ketahui, bahwa filsafat akan menelaah suatu realitas dengan lebih luas, sesuai dengan ciri berpikir filsafat, yaitu radikal, sistematis, dan universal. Konsep tentang dunia dan pandangan tentang tujuan hidup tersebut akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan.

 

 

Dari kata kunci dan hubungan antara filsafat dengan pendidikan maka timbulah beberapa pertanyaan :

1). Apakah pendidikan itu?

2). Apa yang hendak dicapai?

3). Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan itu?

Masing-masing pertanyaan ini dapat dirinci lebih lanjut. Berbagai pertanyaan yang bertalian dengan apakah pendidikan itu, antara lain :

1). Bagaimana sifat pendidikan itu?

2). Apakah pendidikan itu merupakan sosialisasi?

3). Apakah pendidikan itu sebagai pengembangan individu?

4). Bagaimana mendefinisikan pendidikan itu ?

5). Apakah pendidikan itu berperan penting dalam membina perkembangan atau mengarahkan perkembangan siswa?

6). Apakah perlu membedakan pendidikan teori dengan pendidikan praktek?

Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang hendak dicapai oleh pendidikan, antara lain :

1). Beberapa proporsi pendidikan yang bersifat umum?

2). Beberapa proporsi pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu?

3). Apakah peserta didik diperbolehkan berkembang bebas?

4). Apakah perkembangan peserta didik diarahkan ke nilai tertentu?

5). Bagaimana sifat manusia?

6). Dapatkah manusia diperbaiki?

7). Apakah manusia itu sama atau unik?

8). Apakah ilmu dan teknologi satu-satunya kebenaran utama dalam era globalisasi?

9). Apakah tidak ada kebenaran lain yang dapat dianut pada perkembangan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan bagaimana cara terbaik merealiasi tujuan pendidikan, anatara lain ?

1). Apakah pendidikan harus berpusat pada mata pelajaran atau peserta didik?

2). Apakah kurikulum ditentukan lebih dahulu atau berupa pilihan bebas?

3). Ataukah peserta didik menentukan kurikulumnya sendiri?

4). Apakah lembaga pendidikan permanen atau bersifat tentatif?

5). Apakah proses pendidikan berbaur pada masyarakat yang sedang berubah cepat?

6). Apakah diperlukan kondisi-kondisi tertentu dalam membina perkembangan anak?

7). Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam mendidik anak-anak?

8). Perkembangan apa saja yang diperlukan dalam proses pendidikan?

9). Apakah dperlukan nilai-nilai penuntun dalam proses pendidikan?

10). Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu, otoriter, primitif, atau demokratis?

Namun pada semua pertanyaan yang timbul itu, menjadikan rujukan bagaimana pendidikan harus berjalan efektif dan efisien.

Dengan uraian yang telah didipaparkan tentang filsafat pendidikan telah sampai kepada kesimpulan, bahwa tidak semua pertanyaan yang singgah dan hinggap di daerah kesadaran manusia dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan; dan bahwa masalah-masalah yang tak terjawab itu diserahkan kepada instansi atau institute yang diharap dan dianggap dapat menjawabnya, yaitu: Filsafat.

 

 


[1]. Yaya Sunarya, Filsafat Pendidikan ( bandung: arvino raya, 2012 ), hlm. 28

[2]. Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam ( Bandung: Al-Maarif, 1986 ), hlm. 25

[3]. George F. Kneller, Introduction of the Philosophy of Education ( New York: Jhon Willey Sons Inc., 1971 ), hlm.5

[4]. Yaya Sunarya, Filsafat Pendidikan ( bandung: arvino raya, 2012 ), hlm. 28

[5]. Abuddin nata, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Gaya Media Pratama, 2005), hlm.15-18.

[6]. Suparlan suhartono, Filsafat pendidikan, ( Jakarta : Ar-ruzz media), 2009, hlm. 97.

[7]. Lois o. kattosof, Pengantar filsafat, ( Yogyakarta : Tiara wacana ), 2004, hlm.185.

[8]. Muzayyin Arifin, Filsafat pendidikan islam, ( Jakarta : PT Bumi aksara ), 2010, hlm.7.

[9].  Suparlan suhartono, Filsafat pendidikan, ( Jakarta : Ar-ruzz media ), 2009, hlm.117.

[10]. Rizal mustansyir & Misnal munir, Filsafat Ilmu, ( Yogyakarta :Pustaka pelajar ), 2010, hlm.26.

[11]. Prasetya, Filsafat pendidikan, (Bandung : cv pustaka setia, 1997 ), hlm.135.

[12]. Lois o. kattosof, Pengantar filsafat, ( Yogyakarta : Tiara wacana ), 2004 hlm.319.

Categories: Filsafat | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Ihsanulirfan's Blog

physics is my life :)

Kebab Ajieb And Spirit Tea

Just another WordPress.com site

isnaherawaty

Just another WordPress.com site

RINO LIGHT_Sugeng Santoso

Karya, Bisnis, dan Usahaku Untuk Berbagi Bersama Kalian

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

Adi Maja Diary

welcome in my life

Catatan si Kecil

A great WordPress.com site

Wachied Van Eerlijk

A topnotch WordPress.com site

My Site The Munawar

Tersenyumlah Karena Ku Tau Senyummu Itu Indah

Newbie Tora

Takkan ada perubahan tanpa ada perbuatan

fabelster

Education & Music

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: