Karomah II

“Setiap kali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?”. Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa perhitungan” ( Al Imran: 37 )

“Takutlah kamu dengan firasat seorang mukmin, sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah.” ( Hadis riwayat Tirmidzi, Thabrani, Ibnu Adi dan An Najar di dalam kitab At Tarikh )

Pada wacana kali ini saya teringat akan karomah sang Kyai waktu saya di pesantren, banyak santri menceritakan keajaiban-keajaiban yang dilakukan Kyai. sebelum lanjut pada karomah sang Kyai, dan karomah-karomah yang lainnya. marilah kita pahami terlebih dahulu apa itu karomah ?.

Karomah berasal dari kata Ikraam yang mempunyai arti penghargaan dan pemberian, sedangkan Karomah dari segi epistimologi adalah pemberian yang MahaAgung kepada hambaNya yang taat dan khidmat kepadaNya. Menurut ahlussunah, karomah bisa terjadi pada diri seorang wali Allah.

Namun terkadang orang mendefinisikan karomah itu adalah keajaiban, walaupun dia bukan seorang wali. Mari kita simak definisi Wali Menurut Ibnu Taimiyah  “Wali Allah adalah orang-orang mukmin yang bertaqwa kepada Allah. Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka tidak merasa hawatir. Mereka beriman dan bertaqwa kepada Allah, bertaqwa dalam pengertian mentaati firman-firmanNya, penciptaanNya, izinNya, dan kehendakNya yang termasuk dalam ruang lingkungan agama. Semua itu kadang-kadang menghasilkan berbagai karamah pada diri mereka sebagai hujjah dalam agama dan bagi kaum muslimin, tetapi karamah tersebut tidak akan pernah ada kecuali dengan menjalankan syariat yang dibawa Rasulullah s.a.w.”.

Al Imam Tabari meriyawatkan daripada Saeed bin Zubair berkata bahawa Rasulullah s.a.w. telah ditanya orang tentang Wali-wali Allah. Baginda mengatakan “Mereka itu adalah orang yang apabila melihat, mereka melihat Allah”.

Dari Said ra, ia berkata: “Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”

Jadi dari definisi diatas bahwa seseorang yang mendapat karomah haruslah orang-orang yang benar-benar menjalankan syariat, adapun ketika orang itu melakukan suatu keajaiban tetapi dia jauh dari syariat maka itu bukanlah karomah.

PEMBAHAGIAN KARAMAH

Pertama : Karamah Hissiyyah

Yaitu karamah yang dapat dirasa dan dilihat dengan mata, seperti dapat berjalan di atas air atau dapat terbang di udara.

Kedua : Karamah Ma’nawiyyah

Yaitu Istiqamahnya seseorang untuk mengabdi kepada Tuhannya, baik secara zahir maupun batin. Karamah macam ini banyak diharapkan para wali Allah. Kata mereka: “Istiqamah lebih baik dari seribu karamah.”

Syeikh Abul Abbas Al Mursi pernah berkata: “Seorang wali besar, bukanlah seorang yang dapat memperdekatkan jarak yang jauh. Yang termasuk wali besar adalah seorang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya di hadapan Tuhannya.”

Jika seorang wali hanya berharap mendapat karamah, maka wali itu tidak termasuk wali yang berperingkat tinggi. Ibnu Athaillah pernah berkata: “Kemauan yang tinggi tidak sampai menembusi tembok-tembok takdir.” Maksud ucapan itu adalah karamah tidak akan bertentangan dengan ketetapan takdir. Sebab, semua yang terjadi di alam semesta, baik yang biasa maupun yang luar biasa sumbernya dari takdir Allah swt. Pada umumnya, kemauan seorang wali tidak akan bertentangan dengan takdir Allah

Namun bagi Qadariyah dan Muktazilah, karomah atau mukjizat itu tidak berlaku dan mereka mengingkarinya.

Terlepas dari Qadariyah dan Muktazilah, kita memang harus meyakininya, bahwa hal seperti itu adalah permasalahan dogmatis yang sublim dan luar biasa  ( Khariq al Adat ). Dari karomah dan mukjizat alangkah baiknya kita mengetahui perbedaan dari keduanya. Karomah para wali merupakan jawaban doa dari Allah SWT, adakalanya digunakan untuk sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang yang saleh atau wali sebagai anugerah dari Allah SWT. Sedangkan mukjizat merupakan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dari suatu objek, seperti memancarkan air dari jari-jari tangan dan mengubah tongkat jadi ular, dan mukjizat hanya diberikan kepada para nabi dan rosul.

Ada beberapa kisah yang saya ketahui dari karomah pun guru dipesantren. Suatu ketika pada hari raya Idul Adha seperti biasanya ada acara penyembelihan hewan kurban, namun pada waktu itu sapi yang akan disembelih berontak sampai jagalnya pun kewalahan dan merasa seakan-akan sapi itu tidak mau disembelih olehnya, dari panitia penyembelihan hewan itu ada yang berinisiatif untuk memanggil pun guru untuk meminta bantuan, datanglah beliau dan menghampiri sapi tersebut dan memegang kepala sapi itu sambil dielus-elus, karena karomah pun guru sapi itupun menggeletakan badannya seakan-akan sapi itu pasrah untuk disembelih. Warga yang melihatnya terkaget-kaget melihat kejadian itu namun itulah dari sebagian karomah pun guru. Kemudian pada lain waktu ada satu rumah warga yang kebakaran, wargapun memanggil pun guru upaya meminta bantuan, karena karomah pun gurulah api itu tidak merembet kerumah sebelahnya yang sangat berdekatan, walau apabila dilihat sewajarnya haruslah api itu merembet, namun itulah kekuasaan Allah yang dipancarkan melalui pun guru.

Bahkan karomah juga pernah terjadi pada diri Umar bin Khatab ketika Ia memanggil Sariyah bin Hasan dari atas mimbar, padahal pada waktu itu Sariyah berada jauh dengan Umar dan dalam kepungan musuh. Kata Umar : “Naiklah keatas gunung”.

Dan sedikit karomah yang saya ketahui dari Syeikh Abdul Qadir Al Jailani Yang mana beliau banyak diceritakan sebagai rajanya para wali. Beliau pernah berkata kepada seekor ayam yang baru di makan dagingnya: “Hai ayam hiduplah kau dengan izin Zat yang dapat menghidupkan tulang belulang”. Dengan izin Allah, tulang belulang tersebut berubah wujudnya menjadi ayam kembali. Kemudian Syeikh Abdul Qadir Jailani pernah berkata kepada seorang anak yang sakit lumpuh, buta dan kusta: “Berdirilah engkau dengan izin Allah”. Dengan izin Allah, maka anak tersebut segera bangun tanpa suatu cacat pun.

‘Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.’ (Yusuf : 111)

Categories: My Story | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Ihsanulirfan's Blog

physics is my life :)

Kebab Ajieb And Spirit Tea

Just another WordPress.com site

isnaherawaty

Just another WordPress.com site

RINO LIGHT_Sugeng Santoso

Karya, Bisnis, dan Usahaku Untuk Berbagi Bersama Kalian

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

Adi Maja Diary

welcome in my life

Catatan si Kecil

A great WordPress.com site

Wachied Van Eerlijk

A topnotch WordPress.com site

My Site The Munawar

Tersenyumlah Karena Ku Tau Senyummu Itu Indah

Newbie Tora

Takkan ada perubahan tanpa ada perbuatan

fabelster

Education & Music

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: